Bismillahirrahmanirrahim

Spiritual Gathering
"Menemukan Jalan Pulang"
nara sumber: Pak Muh


Tanggal 16 & 17 September 2006

Tempat:
Gedung Paramadina
(Belakang MC'D Pondok Indah ATAU Depan RS Pondok Indah),
Pondok Indah Plaza I Kav UA No. 20-21
Jl. Metro Pondok Indah, Jakarta Selatan

Telp.: 021-7248493, 021-7492933, 085217506922
Fax: 021-7248493
Contact Person:  Buroqi Tarich
tarich@idola.net.id, buroqi@yahoo.com


Biaya : hanya Rp. 750.000,-
(makan siang,snack, makalah, buku "Langit-langit Desa", konsultasi)

Dipersilakan anda untuk mengisi form berikut:

Tanda (*) harus diisi.
Nama:*
Alamat
Telp/Hp:*
Fax:
Email:
Bisa dihubungi pukul:
 

"MENEMUKAN JALAN PULANG"


Kegelisahan akan makna hidup, frustasi dan keterasingan adalah gejala umum
yang menghinggapi keseharian manusia saat ini.

Ditengah kondisi yang demikian, wacana spiritualitas tumbuh bak jamur di
musim hujan. Banyak tokoh - tokoh agama, pembicara seminar & intelektual
berbicara mengenai Spiritualisme, Tuhan dan Agama. Tetapi sebagian besar
terasa mengulang-ulang konsep lama. Sebagian lagi malah berujung pada
penolakan agama yang dianggap membatasi spiritualitas.


Beberapa pertanyaan yang umum kita temui :

* Saya lebih merasakan ketentraman dengan meditasi dibandingkan dengan
sholat, mengapa ?

* Mengapa kita harus melibatkan diri dalam sekat-sekat agama ?

* Dimana sebenarnya kelebihan Islam dibandingkan jalan spiritual lain ?

* Bagaimana menjelaskan bahwa ritual-ritual dalam Islam (sholat, puasa,
haji) itu adalah metode terbaik dalam mengubah diri manusia ?

* Bagaimana menjelaskan bahwa Al Qur'an itu sebaik-baik petunjuk bagi
manusia untuk menyempurnakan diri dan masyarakatnya ?

Pelatihan Menemukan Jalan Pulang adalah sebuah tawaran untuk memperkuat
kesadaran diri dengan bimbingan seorang guru sufi. Menghayati kembali
sisi-sisi fundamental dari kehidupan kita, memahami arti peran tunggal
setiap individu, serta mempertajam pandangan bathin untuk menangkap yang
"Tuhan" dibalik fenomena keseharian kita. Sebab sesungguhnya setiap
kenyataan yang kita temui adalah medan dimana yang maha Nyata terus menerus
menyatakan Diri. Dunia ini adalah pernyataan diriNya, yang senantiasa
menyeru manusia agar menjadi teman dialogNya.

Melalui pelatihan ini Anda akan diajak menyelami sisi terdalam dari risalah
yang dibawa para Nabi agar setiap individu menyadari pentingnya menemukan
jalan kembali kepada Tuhan. Jalan kembali itu bukanlah jalan sunyi tanpa
arti. Jalan kembali itu justru sebuah medan penuh tantangan, dimana setiap
manusia bekerja bersama Tuhan menyempurnakan kenyataan. Jalan kembali itu
bukanlah gerak mundur tetapi justru menyeruak maju menciptakan kemungkinan
baru.

Jalan pulang itu ... tak bisa dicapai dengan sekedar meniru milik orang
lain, meskipun itu milik para tokoh, idola, ulama, para wali maupun Nabi.
Jalan pulang itu tunggal bagi setiap diri, tak ada peta dan referensi, tak
ada petunjuk maupun tempat bertanya.

Muhamma Zuhri - sosok yang tercerahkan akan bertutur kepada Anda tentang
Jalan Pulang itu. Mengurai simbol-simbol dan ritual Islam dengan cara yang
berbeda dari para pendahulunya. Dialah yang disebut seorang tokoh
intelektual Islam sebagai pencetus gagasan Tasawuf Revolusioner.

Muhammad Zuhri adalah seorang penempuh jalan sufi dari Sekarjalak. Sebuah
desa kecil dikaki Gunung Muria. Beberapa pemikirannya telah banyak
mencerahkan jiwa para pencari makna hidup sekaligus mengagetkan beberapa
pemikir Indonesia dan Barat. Prof.Peter Riddle (London) menyejajarkannya
dengan Nurrudin ArRaniri dan Buya Hamka sebagai pembaharu dalam pemikiran
tasawuf di Indonesia.

Ribuan orang telah menimba dari mataair kebijakannya. Setiap hari selama
puluhan tahun dengan setia dia menerima tamu-tamu tak diundang yang datang
kerumahnya untuk membantu problem hidup mereka yang pelik-pelik. " Mereka
semua adalah utusan Tuhan yang dikirim kepada saya. Mereka adalah para
pencari yang tak pernah menemukan." ujarnya.

Metode penyembuhan Sufi (Sufi's healing) yang dikembangkannya telah membantu
banyak penderita HIV/AIDS yang berasal dari berbagai Negara.

Komentar :

Prof. Peter Riddle - England University dalam buku ' Islam and The
Malay-Indonesian World'- London, berujar :

"Beberapa konsep tasawuf Muhammad Zuhri belum pernah saya dengar dari
pemikir2 Islam terdahulu. Tak pelak lagi melalui orisinalitas
pemikirannya, dia adalah pembaharu pemikiran sufistik Islam dijaman post
modernisme yang langka. Baginya issue/gagasan penyatuan (unity) dalam
tasawuf tidak lagi relevan."

Prof. DR. Damardjati Supadjar, pakar filsafat dari UGM dan penasehat
spiritual Kraton Jogjakarta :

" Membaca Karya Kang Muh (panggilan akrab Muhammad Zuhri) dalam "buku
Langit2 Desa" - kita akan menemukan sebuah ambang pencerahan. Betapa tidak!! .."
" Kita tidak hanya diajak tafakur dan tadzakkur melainkan juga tadabbur,
yakni bermata keibuan, untuk dapat melihat anak yang dicintainya, meskipun
tinggal dibalik bumi"

Dr. Armahedi Mahzar, pakar filsafat , saintis dan Fisikawan ITB :

" Saya menemukan pemandangan aneh, laksana sebuah zawiyah sufi ditahun
90-an, ada seorang guru spiritual duduk dikelilingi para mahasiswa dan
aktivis Islam, membicarakan soal spritualisme, falsafah dan problem
eksistensi yang rumit."

" Dari hasil diskusi saya dengannya, saya menangkap adanya sebuah cara
pandang baru atas spiritualitas Islam yang mencerahkan. Dia memandang level
tertinggi hubungan dialogis antara Tuhan dan manusia adalah justru pada
saat moment kreatif yang dikenal sebagai amal shaleh."

"Dimata Pak Muh, sesungguhnya setiap individu adalah calon ibu kebenaran,
yang berpotensi menjadi teman dialog Tuhan dalam menyempurnakan
kenyataan.... Saya ingin menyebut pemikirannya sebagai Tasawuf
Revolusioner."

Emha Ainun Najib - Budayawan :
" Dialah salah seorang yang mengantarkan saya dari sebuah kosmos nilai
kepada kosmos nilai berikutnya"
" Suatu hari, sesudah mendengarkan perdebatan riuh rendah disebuah forum, ia
berbisik ketelinga saya : "Betapa gaduhnya manusia menperdebatkan kebenaran. Padahal kebenaran itu abadi, sedangkan manusia itu temporer dan sementara. Betapa mungkin kesementaraan begitu mantap dan penuh keyakinan diri mengukur-ukur keabadian" "

Miranda Risang Ayu - Penulis, kolumnis Majalah Paras dan Harian Republika :
" Kata-katanya meluluhlantakkan semua kekerasan yang ada dalam diri saya
selama masa pencarian yang melelahkan ".
"Penjelasannya atas berbagai istilah dan konsep dalam ajaran Qur'an membuat
siapapun akan tertegun. kaca pahamnya begitu dalam."

Dimata para jamaah & murid-muridnya yang tersebar diberbagai kota dan
negara, Muhammad Zuhri bagaikan sumur yang tak pernah kering.[]

[Atas]


DEPAN - INTRODUKSI - TULISAN - ALBUM FOTOLINK