Bismillahirrahmanirrahim

SEBUAH
ALTERNATIF

Oleh: Muhammad Zuhri


Wujud Manusia

Kehidupan adalah sinar terang di antara dua kegelapan sebelum dan sesudahnya. Di dalam kesempatan yang singkat itulah seseorang dapat menyadari keberadaan dirinya di antara keberadaan wujud-wujud yang lain.

Sejak itu ia dapat berperan di tengah-tengah lingkungannya. Ia mulai berupaya mengenal segala sesuatu yang dijumpainya di dalam perjalanan. Semua perolehannya di letakkan di dalam kerangka diri. Itulah sebabnya seseorang tidak dapat menjadi seperti apa yang dilihat, didengar dan diinginkannya, Setiap orang hanya akan menjadi dirinya sendiri lewat peri-laku yang diungkapkannya di dalam hidup. Wujud manusia adalah perbuatannya.

"Maha berkah Ia , yang ditangan-Nya kerajaan, dan atas segala sesuatu Ia berkuasa. Ia yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa yang lebih baik amal-perbuatannya." (Q.S.Al-Mulk: 1-2).


Kehidupan Manusia

Di dalam proses pemeranan-diri ummat manusia terperangkap oleh hasil perolehannya yang berupa ilmu pengetahuan dan fasilitas kehidupan. Sejak itu aktifitasnya sebagai subyek kehidupan terhenti. Sejarah berpindah dari perkembangan makna kehadiran manusia kepada pengembangan ilmu pengetahuan dan sumberdaya. Segala perolehannya dari safari eksternal tidak menjadi aset bagi safari internalnya yang jauh, tetapi terserap keluar lagi demi pengembangan dunia milik.

Kegagalan mereka mentransformasi 'sumberdaya' menjadi 'nilai' telah membelenggu mereka di dalam 'siklus antara ilmu dan benda'. Citra-rasanya turun, harga dirinya menjadi seberat timbangan milik dan masalahnya yang terbesar timbul dari keberadaan pihak lain yang berbeda. Mereka telah tertipu oleh visinya tentang kenyataan. Hidupnya terpotong dari keabadian dan menemukan prasangkanya sendiri sebagai Tuhan.

"Itulah prasangkamu yang kau lemparkan kepada Tuhanmu, yang menghancurkanmu. Maka kamu tergolong orang yang merugi." (Q.S.Fushshilat: 23).


Tragedi Kesadaran Diri

Tragedi kehidupan tersebut bermula dari tragedi kesadaran diri yang dialami ummat manusia sebelumnya. Pertama ketika ia mencoba memahami diri sendiri dan kedua ketika ia mengenal semestanya.

  1. Kesadaran diri manusia bagaikan pelita yang menyala. Cahayanya terus berkembang hingga mencapai titik optimalnya. Dan muncullah tragedi ketika ia merasa bahwa dirinya lebih terang dari semua yang lain. Itulan momen kelahiran Iblis di dalam diri manusia (kesombongan).
  2. Setiap individu menyadari bahwa ia hidup bersama orang lain di dunia ini. Di samping itu ia juga menyadari bahwa fasilitas hidup yang tersedia sangat terbatas. Ketika kesadaran akan 'kelangkaan sumberdaya alam' bertemu dengan kesadaran akan 'kebersamaan hidup' di dalam diri seseorang, maka lahirlah tragedi kedua yang berupa 'sikap mementingkan diri sendiri'. Dan itulah momen kelahiran Setan di dalam diri (Keserakahan).
Dua macam tragedi tersebut telah melibat setiap insan di sepanjang zaman dan melahirkan sikap negatif terhadap kenyataan. Maka fenomena yang muncul kemudian hanya berupa bentuk-bentuk budaya yang ditegakkan atas kepentingan sepihak (ke dalam) demi menyelamatkan diri dari golongan lain yang dianggap lawan. Maka lenyaplah motif 'fastabiqul khairat' dari era 'rahmatan lil 'alamin'.

Setiap golongan ummat merasa lebih unggul dan lebih berhak menentukan segala-galanya dari golongan lain, persis sebagaimana dilukiskan oleh Al-Qur'an, Sr.Al-Baqarah: 133.

"Dan orang-orang Yahudi berkata: 'Orang-orang Nasarani itu tidak berhak atas sesuatu' (tidak punya pegangan), dan orang-orang Nasrani berkata: 'Orang-orang Yahudi itu tidak berhak atas sesuatu', padahal mereka sama-sama membaca Al-Kitab. demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui mengatakan seperti ucapan mereka. Maka Allah akan mengadili di antara mereka di hari kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan."

Mereka gagal menangkap kenyataan sebagaimana adanya.


Tawaran Sang Nabi

Di tengah-tengah kekacau-balauan mencari identitas diri yang utuh (final), Nabi Saw. menawarkan alternatif kepada ummat manusia:

"Siapa mengatakan 'La ilaha illallah, muhammadur rasullah' , dia masuk sorga."
"Meskipun ia berzina dan mencuri?" tanya yang mendengar.
"Meski ia pernah berzina dan mencuri." jawab beliau.
"Meski ia pernah berzina dan mencuri?" ulangnya kurang yakin.
"Meski ia pernah berzina dan mencuri!" tegas beliau.

Di balik kalam nabawi yang ringkas tersebut di atas tersirat sikap beliau yang positif terhadap kenyataan dan sekaligus kesiapan beliau untuk menghadapinya.

Beliau siap menghadapi kenyataan sebagaimana adanya, karena bagi beliau 'kenyataan' adalah lingkungan tempat setiap individu merealisasi makna kehadirannya. Hubungan dialogis antara individu dan lingkungan akan menimbulkan ketegangan yang melahirkan gerak sintesis yang disebut 'penciptaan'. Setiap ketegangan harus dipelihara, supaya tidak menimbulkan tragedi dialog (permusuhan) dan tidak menjadi kendor (apriori) sehingga menggagalkan momen kreatif.

Ada 4 macam ketegangan yang ditimbulkan oleh hubungan dialogis:

  1. Ketegangan dialog antara roh dengan Allah.
  2. ----------------,,---------------- kalbu dengan nafsu.
  3. ----------------,,---------------- akal dengan masyarakat.
  4. ----------------,,---------------- pikiran dengan alam.
Setiap bentuk sintesis diatur oleh ilmu Tuhan:
  1. Bentuk sintesis antara roh dengan Allah berwujud Shalat.
  2. --------------,,-------------- kalbu dengan Amrullah (perintah Tuhan) berwujud Zakat.
  3. --------------,,-------------- akal dengan Qudratullah (Kuasa Tuhan) berwujud Puasa.
  4. --------------,,-------------- pikiran dengan Khalqullah (ciptaan Tuhan) berwujud Hajji.
Pengetahuan akan ilmu Allah itulah yang membuat beliau yakin akan dapat mengungkapkan kemungkinan yang sebaik-baiknya (sorga) dari kenyataan yang ada.


Kalimah Thayyibah

Yang disebut Kalimah Thayyibah adalah 'La ilaha illallah'. Al-Qur'an melukiskannya sebagai 'sebuah pohon yang baik, yang akarnya kuat menghunjam (ke bumi) dan cabangnya menggapai langit' (Q.S. Ibrahim: 24.)

Pohon yang seperti itu tidak pernah ada di dunia, selain berwujud manusia. Karena hanya manusialah yang dapat memiliki esensi yang mampu menjangkau dua dimensi wujud yang berpasangan (bumi dan langit).

Kalimat 'Tiada Tuhan selain Allah' adalah kalimat pernyataan yang dituntut bukti kebenarannya. berbeda dengan 'kalimat pengakuan' yang hanya membutuhkan kejujuran dari pihak pengucapnya, misalnya 'Amantu billah' (Aku percaya kepada Allah).

Untuk membuktikan tiadanya Tuhan selain Allah secara obyektif sangat tidak mungkin, karena tak seorang pun pernah melihat Tuhan. Satu-satunya jalan adalah dengan membuktikannya secara subyektif, yaitu dengan melibatkan diri di dalam menejerial-Nya. Untuk itu ia harus melakukan hubungan dialogis dengan Tuhan (Shalat).


Momen Transendensi (Shalat)

Shalat merupakan momen transendensi (mi'raj) orang-orang beriman. Di dalamnya berlangsung tiga macam transendensi yang dapat mengantarkan esensi seseorang ke puncak kesempurnaannya secara individual (Q.S. Al-Hijr: 99), yaitu:

  1. Transendensi 'peran jiwa' (nafsu) menjangkau 'peran Allah', dengan pernyataan 'Iyyaka na'budu' (Kepada-Mu kami mengabdi).
  2. Transendensi 'kemampuan insani' menjangkau Qudratullah' (Kuasa Tuhan) , dengan pernyataan 'Iyyaka nasta'in' (Kepada-Mu kami memohon pertolongan).
  3. Transendensi 'kemauan insani' menjangkau 'Iradatullah' (Kehendak Tuhan), 'dengan pernyataan 'Ihdinash shirathal mustaqim' (Tunjukkan kami jalan-lurus).
Proses transendensi telah melemparkan seseorang ke dalam kematiannya sendiri, meskipun kemudian ia hidup kembali dengan predikat, kodrat dan iradat baru yang bernasab kepada Allah (Abdillah). Hal itulah yang membuat dirinya sanggup menerima kenyataan dan berani menanggungnya.

"Setelah bernasab kepada Allah , engkau harus menanggung segala sesuatu, karena segala sesuatu tak lagi sanggup menanggungmu." pesan An-Nifari. *)

Maka ia pun segera turun dari medan tajalliyat Tuhan (Shalat; momen transendensi) untuk menempuh kehidupan barunya sebagai Hamba Allah. Ketika itu 'ia' bukan 'ia' lagi, melainkan seorang hamba yang dikirimkan Allah dengan qodrat dan iradat dari sisi-Nya untuk melakukan transformasi di segala bidang kehidupan yang dikuasai (Q.S. Ali 'Imran: 110).


Momen Transformasi (Shalat Wustha)

Shalat Wustha adalah shalat yang terletak di antara Shalat Maktubah yang satu dan yang lain. Padahal 'saat itu' berupa 'momen aktual' manusia. Dengan demikian shalat wustha adalah aktualisasi diri yang bernilai transformatif yang dapat menyampaikan seseorang kepada Tuhannya sebagamana halnya dengan Shalat, yaitu:

  1. Transformasi 'Fenomena' menjadi 'Ilmu' yang bersifat 'konstruktif' akan menghasilkan kesadaran akan adanya 'Sumberdaya' (Rahmat-Islam-Alami).
    'Sumberdaya' bersifat alami. Keberadaannya menyelamatkan diri dari Alam / berada dalam Sunnatullah (Q.S. Ali-'Imran: 83).
  2. Transformasi 'Sumberdaya' menjadi 'Nilai' (Makrifat) yang bersifat 'integratif'' menghasilkan kesadaran akan 'Keharusan' (Amer - Iman - Manusiawi).
    'Keharusan' bersifat manusiawi (adil). Keberadaannya mengamankan manusia dari sesamanya / berada dalam Amer Allah (Q.S. Al-Bayyinah: 5)
  3. Transformasi 'Keharusan' menjadi 'Citra' (Hikmah) yang bersifat 'kreatif', menghasilkan kesadaran akan 'Proses' (Amal Shalih--Ihsan--Ilahi).
    'Proses' bersifat Ilahi. (benar). Keberadaannya menyampaikan kita pada Ridla- Allah / berada dalam Jalan Allah ( Q.S. Al-Qashash: 77.)
Di dalam momen transendensi 'Iradah Tuhan' akan turun ke dalam diri manusia, dan di dalam momen transformasi 'kehendak manusia' akan naik mencapai Ridla-Nya. Di dalam proses-transendensi esensi manusia naik menggapai Sang Asal / Al-Awwalu (Qudratullah dan Iradatullah / Rahmaniyah) , sedang di dalam proses- transformasi manusia berjoang meraih Sang Tujuan / Al-Akhiru (Ridwanullah / Rahimiyah), yang kedua-duanya adalah wujud Allah dalam sifatnya yang berbeda (berpasangan). Itulah sebabnya proses aktualisasi diri seorang Mukmin selalu dibuka dengan 'Basmalah', yang menyadarkannya akan tujuan dan tehnis pengungkapannya yang bernilai ganda (ke dalam dan ke luar).

"Peliharalah shalat-shalat(mu) dan shalat wustha, dan tegaklah karena Allah dengan penuh ketaatan." (Q.S. Al-Baqarah: 238).

Dengan perjalanan masuk (transendensi) dan keluar (transformasi) yang benar, seorang Abdillah telah berhasil menghapus 'kegelapan sebelum dan sesudah' kehadirannya di dunia, karena ia telah menggenggam Al-Awwalu dan Al-Akhiru (Dimensi Kontinuiti/ kesenantiasaan) di dalam kiprah kekiniannya (Q.S. Al-Isra': 80)

Al-Qur'an menyebutnya sebagai hamba yang telah melaksanakan 'Shalat Da'im', yang tak akan terpengaruh oleh panas dan dinginnya cuaca kehidupan (Q.S.Al-Ma'arij: 19-23).

Itulah wujud 'La ilaha illallah', itulah 'Mati Sajeroning Hurip' yang dijanjikan sorga oleh Sang Nabi saw pada saat pertama kali beliau tampil sebagai Utusan-Nya. Dan itu pula yang membuat Nabi Ibrahim as. ketika menghadapi kenyataan, hanya bisa berkata:
"Siapa mengikutiku, ia termasuk dalam golonganku. Dan siapa mendurhakaiku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. Ibrahim: 36).

Maka tidak terlalu salah untuk dikatakan bahwa Para Nabi Besar itu telah berhasil - menghayati Wujud Tuhan *) - antara Yang Ada dan Yang Tiada, sebagaimana Para Sufi menyebutnya.

Wallahu a'lam bishshawab!



Pati, 27 Juni 2000

*) Wujud Tuhan bukan Zat Tuhan.
(lihat paragraf I, tentang wujud).
*) Muhammad bin Abdul Jabbar An-Nifari,
Sufi Besar dari Naffar, Bagdad, abad IV Hj.
*) Pijakan: Al-Qur'an dan Sunnah Nb. Saw.



Kembali ke
Karya Tulis Pak Muh