Bismillahirrahmanirrahim
PUISI MUHAMMAD ZUHRI
PUISI UMROH


 

BILA ENGKAU BUKAN BATU

Hari itu hatiku bersikeras menatap gurun
menyibaknyibak pasir yang terbentang
disekitar rumah tua berpagar cahaya
Tiada sepotong bayangandiri kutemukan disana
Mungkin segalanya telah selesai
atau matahari telah jenuh membagikan cahayanya

Angin berembus kencang
debu panas mengudara
menyapu wajahwajah putih sarat muatan
tubuhku hanyut ke dalam pusaran
Hatiku bertanyatanya :
- Benarkah diriku sebutir elektron
atau planet bingung yang mengorbit batu ?
Sementara irama gurun menamparnampar telinga
dengan bisik, gumam dan isakan
Dengungnya membuat lebah bernyanyi
rindu gema dan cakrawala sendiri

Aku ikut berdendang
Di luar sadar diriku menjelma sebingkai lagu
Sumbang suaranya mirip desir malam menjelang kemarau
nadanya menyayat tabir waktu
hingga terlempar ke ceruk sebuah batu
Hitam legam
bagai benih kematian merindukan terang

Jasadku larut
sukmaku hanyut
ditayang kematian ke pilar biru
hingga detik paling menikam
belum kutemukan diriku yang hilang

Tiba-tiba semuanya berakhir
dan segalanya menemukan makna
ketika batu hitam itu berbicara:
- "Wahai Dungu!
Beri aku napas,
bila benar engkau bukan batu!"
 

Mesjid Harom, September 1995.
 
 

ANTARA SHOFA DAN MARWA

siapa memanggil-manggil namamu
saat fajar mencemaskan perjalanan
katakan aku bersamanya dalam kokok ayam jantan
ketika satwa bertaburan dari segenap penjuru ruang
mengarungi ketakpastian berbekal khayal
dan binar harapan

kemudian semua berkata
sejarah sedang menyusun cerita

siapa resah menunggu purnanya sebuah cerita
angin tak peduli engkau ada atau tiada
reguk dalam-dalam kilat bening melintas kaca
ruang dan waktu tak menjamin keabadian makna
 

Makkatul Mukarromah, September 1995.

 

SKWADRON MALAIKAT

Di halaman Masjid Haram
selepas menunaikan shalat Jum’at
kami terkepung sepasukan gadis kecil
bermata bintang
Mereka berebut mencium tangan
seraya menuntut zakat perjalanan

Mulutku ternganga, hatiku bertanyatanya
- Malaikat dari langit mana mereka
seperti aku pernah mengenalnya
seribu atau sejuta tahun yang lalu
ketika diriku masih padu
Mengapa mereka menghadangku
saat kedua tanganku terbelenggu

O, alangkah lembutnya wajah mereka
hitam legam bagai boneka pertala
Aduhai, bila mereka tersenyum
tiada nurani seputih giginya
Kalau saja bukan pendatang
sungguh bahagia bersama kalian !

Tengah kami bercanda, pasukan lain menyerbu
dari kakikakilima
Bagai dihadang setan jalanan
kami berlari tungganglanggang
Tanpa kenal putusasa mereka memburu kami
sekuat tenaga

Kakikaki kecil yang lemah
Jiwajiwa mungil yang patah
tak kuasa menggapai kenyataan
mengejar sukmaku dengan jeritan :
- "Ya Allah tunggu !
Dengarkan kami
Lihatlah keadaan kami "

Dan . . .
lepaslah jantungku dari untaiannya
Dengan suara terputusputus aku bertereak
ke angkasa :
- "Tolong !
Jangan panggil aku dengan nama itu
Tahan cadarmu, hingga semua sandiwara berlalu "
 

Makkah Al-Mukarromah, September 1995.

 

SEBUAH ALBUM HARIAN
buat : Adam dan Hawa

bapa dan ibu !
di tempat kalian bertemu
setelah berabad berpisah
berdiri monumen megah
- Jabal Rahmah -

tugumu anggun bagai Dewa Uzza
menaungi hamparan Arofa
tempat berhenti kafilah zaman
dalam mencari rumah yang aman

maafkan aku bapa !
di bawah tugumu yang syahdu
tiada sepotong doa kuucapkan
bukan karena lupa
atau bangga dengan diri yang papa
tetapi karena hatiku sedang tenggelam
di lautan yang pernah menelan kalian

apa yang kini bisa kulakukan
hanya melengkapi album harian
ketika seorang cucumu
tiba-tiba datang menghampiriku
menggenggam hati di tangannya
buru-buru kusemayamkan di dada
 

Jabal Rahmah, September 1995.

 

BAIT BAIT PUISI DI JABAL UHUD
buat Syuhada Uhud

disini kalian terbaring sementara waktu
di balik onggokan nisan-nisan batu
jerit takbir, hempasan tubuh dan napasmu
bagai sangkur menyayat ketenanganku

kekalahan mengukir tahta para syuhada
Sayyidina Hamzah paman Rasulullah
gilang gemilang terbujur di palagan
gugur mengikis dendam sahara
jantungnya lebih putih dari gigi pengunyahnya
derapnya lebih gempita dari Baratayuda
hingga nanar mata Sang Nabi dibuatnya

salam untukmu Syuhada !
kulihat teja biru di kuburmu
kemenangan Badar hanyalah debumu
dan nisan-nisan beku itu
bait-bait puisi kebenaranmu
 

Jabal Uhud, September 1995.

 

DI MESJID NABAWI

kulepas puji cahaya
di bawah kubah hijau
saat matahari nanar dalam safar
kau tangkap ubun-ubunku di lantai pualam

sujud adalah terbang
di ruang tanpa bintang
bulan dan matahari zaman
ketika awal dan akhir turun
di lembar cinta Sang Mabrur
 

Madinatul Munawwaroh, September 1995.

 

DI SHOF MASJID MADINAH *)

di shof masjid Madinah
saat hati tenggelam dalam i’tikaf
dari balik punggungku terlena
seorang Habsyi berkata :
- hemat enersi dan jaga stamina ! -

seketika terbentang di depan mata
sajadah seluas cakrawala
warnanya merah langit senja
tanpa ornamen bunga-bunga

- bersujudlah ! -
suara dari balik kubah
- semestamu telah rindu
bercadar kafan kelabu -

segera kupetik Mawar Taman Azali
kutabur di altar hari
aroma samar mengusap ruang
menganyam sujud panjang
 

Madinah, September 1995.

*) buat penderita AIDS dimana saja.

 

DI ALTAR QUBA

di altarmu yang syahdu
aku berdiri termangu

sejuknya udara
temaramnya cuaca
di bawah kubahmu yang baka
membujur sujud panjang
musyafir zaman
dalam basah dan gersang

quba !
di balik atapmu
sirna dambaku
di atas lantaimu
abadi langkahku

demi tiang yang ditinggikan
demi puji yang dilepaskan
aku berdiri, ruku’ dan sujud
menggenggam kebebasan
mencium kekekalan
 

Madinah, September 1995.

 

J E R A S H *)

Jerash !
di balik tiang-tiangmu yang meranggas
terbayang wajah kota
yang mengkemas cakrawala

Jerash !
berapa lama namamu dimanja
gelak-tawa, pesta gila, tuak dan paha ?
di arenamu kudengar jeritan
darah meleleh di setiap pilar
aktor-aktormu yang berambut panjang
menunggu sendu di pintu gerbang

Jerash !
berapa lama wajahmu merias angkasa ?
puing-puingmu kini merintih nista
mengadu duka
menuntut semua
yang menjadikan Roma
kiblat budaya

Jerash !
alangkah malang nasibmu !
 

Jerash, September 1995.

*) reruntuhan kota Roma.

 

KOTA MAWAR MERAH *)

kakiku melangkah pelan
di lorong sempit yang lengang
antara bukit-bukit batu yang terjal

diri bagai sebutir kerikil
di bawah bayangan raksasa bugil
yang tegar mencekeram langit
memagar cakrawala Petra

hanya tangan-tangan purba
yang kuasa memahat gunung jadi istana
di puncaknya anggun berdiri Dewa Uzza
pelindung Kota Mawar Merah

dalam pesona jiwaku berkata:
- wahai Dewa Dewa Sahara
kemana kalian mengembara
bersama pengikutmu yang perkasa?

- mengapa lengang kotamu
yang dipangku gunung-gunung batu
saat aku menjengukmu?

sunyi bagai mimpi
hanya angin gurun yang bernyanyi
di istana yang tanpa penghuni

ajaib!
di senja terakhir
dalam safari di padang pasir
seorang anak kecil menghadang jalan
seraya menyampaikan salam:
- ‘sini, sini !’, yang tak pernah dapat kupahami
kemudian lenyap ke balik sepi
 

Petra, September 1995.

*) nama kota yang dibangun dari pahatan gunung
oleh bangsa Nabatean 100 tahun sebelum Masehi.


 



  Kembali ke
Karya Tulis Pak Muh