Bismillahirrahmanirrahim
PUISI MUHAMMAD ZUHRI
NYANYI RAJAWALI


 

I.

Dialog pun terjadi, antara
Burung Rajawali dan seekor Serangga
Peniti benang ruang-waktu.
Yang hendak menggapai langit biru.
Berbekal kata dan luka-luka.
Rekaman safari di lembah duka.

- Wahai Serangga!
Jangan keburu menepuk dada,
Mengaku makhluk terbaru di dunia.
Di dalam bersejarah engkau gagal.
Anak panah yang kau lepaskan.
Telah bersarang di dadamu yang
telanjang.

Engkau bukan makhluk baru, sayang.
Di setiap zaman ada model sepertimu.
Dapurnya saja yang berbeda.
Hakekatnya lenyap di perut benda.
Yang segera akan binasa,
Sebelum sirna sarang laba-laba. 1)

Lolongnya lepas tanpa gema.
Selain penghibur Parawisata.
Yang mengejar terang dunia-luar.
Karena merasa gelap di dalam.
Persis jeritmu yang panjang.
Saat membaurkan roh dan badan.

- Serangga sayang.
Engkau alergi pada pengulangan-pengulangan.
Atau pada diri-sendiri yang kepalang?
Setahuku hanya Iblis yang pantang mengulang.
Setiap terlaca langkahnya berganti makar.
Bermata satu pada kesementaraan. 2)

Manusia dan Serangga adalah makhluk-kosmis.
Yang diorbitkan dalam putaran yang ritmis.
Namun serangga bukan makhluk sejarah
Meski meniti benang yang takdirnya lemah.
Hanya manusia yang dapat melangkah
Di atas dua kakinya yang pantang menyerah.
Sebagai makhluk-sejarah dan makhluk-kosmis
yang pasrah.


II.

- Serangga yang malang.
Setiap struktur lahir dari struktur
yang sudah.
Hingga dosa-warisan harus ada?
Seperti kencing yang berbau busuk
Dari ayah-ibu yang terkutuk?
Atau Kuntilanak yang beranak Kuntilanak?

Seandainya roh itu struktur.
Engkaulah orang pertama penghujat leluhur.
Dan leluhurmu akan menghujat Tuhan.
Tuhanmu pun dapat menghujatmu.
Bersama struktur sebelummu.
Kemana engkau akan lari
Menyadarkan dirimu yang nisbi?

Untung roh bukan struktur.
Dan struktur bukan pula roh.
Seperti tubuh dan rasa malunya
Keduanya jelas berbeda.
Selain buat si gila
Yang asyik meniduri bangkai-
kekasihnya.

Engkau hanya mau bicara kepada yang muda,
Kepada yang intelek, kepada yang ilmuwan.
Untuk menikam paradigmamu tentang keutuhan?
Atau memang begitu cara berpikir yang postmo.
Itukah konsep kematian yang kau tawarkan?
Itukah sorot pandangmu tentang 'kekinian'?
Tidak hanya anak 'teka'.
Warga 'eresje' pun sudah terbiasa.


III.

Aku paham akan maksudmu, sayang.
Mengangkat bisnes sebagai ideologi-zaman.
Tetapi bumi Tuhan bukan toko-swalayan.
Bukan pula medan pelampiasan dendam.
Meski boleh juga engkau berdagang.
Orang lain pun berhak menawar.

Cinta yang kau dendangkan
Demi memungut langsung kebebasan.
Hanyalah cinta-semu.
Yang akan melahirkan kebebasan-semu.
Kebebasan yang menumpas kebebasan.
Seperti bunuh-diri.
Yang merampas kemungkinannya sendiri.

Cinta itu bersifat esensial.
Wujud eksistensialnya 'pengorbanan'.
Kebebasan yang muncul kemudian.
Akan setara dengan bobot-pengorbanan.
Begitulah ungkapan yang jujur.
Dari penghayat proses yang tak mandul.

Tentang 'matibenaran' yang membebaskan.
Hanya sebatas tanggungjawab roh pada badan.
Bukan terhadap perilaku yang diungkapkan.
Yang layak dipertanggungjawabkan.
Jika tidak, akan lenyaplah makna keadilan.
Kehidupan akan tersungkur di depan kematian.
Dan sia-sia semua yang diwujudkan.


IV.

Sebagai seorang pengingkar
Engkau masih menyebut nama-nama silam.
Seperti orang invalid yang butuh sandaran.
Dunia kini sedang rindu wujud-insan 3)
Bukan referensi dan hipotesanya yang pincang.
Menghapus hukum-dialogis dari kehidupan.
Dengan memilih discontinuiti sebagai pijakan
Dan menolak continuiti sebagai pasangan.
Agar dapat memaksakan hukum-benda atas manusia.
Dan menganalisa roh dengan dalil-fisika.
Demi utopinya mencapai tiran tunggal di dunia

Hanya itukah yang bisa kau tawarkan
Sebagai pola identifikasi putera-zaman?
Supaya mereka lebih pakar
Mengkonter makar dengan makar?
Menghajar penyimpangan dengan penyimpangan?
Itukah final perolehanmu tentang Kenisbian?

Atau engkau menyimpan modus lain
Membuat kontradiksi saat krisis berpikir.
Hitam dibilang putih dan putih dibilang hitam.
Supaya semesta semakin samar.
Kemudian menggiring semua korban.
Ke lorong-lorong janji yang gersang?

Narkoba dengan halusinasinya.
Tanpa iklan dan argumentasi-konyolnya.
Telah menjerat leher generasi-muda.
Gay, freesex, lesbian dan kehangatan mesumnya.
Lembaga kemandulan dan habitat AID yang nyata.
Tanpa pembela telah lolos membudaya.

Belum terbayarkah dendammu pada kehidupan.
Hingga sempat engkau menyusun pembenaran?
Penampilanmu memaksa orang berpikir
Tentang figur provokator yang mahir.
Dengan kedok penemuan orang lain
Mengaplikasi kepentingan asing.

Betapa pun wujudmu tetap terbaca.
Ketika engkau membuat sebuah sintesa.
'Antara hitam dan putih adalah abu-abu'
Amboi!
Antara hitam dan putih, abu-abu?
Sungguh sebuah filosofis 'teka' yang lucu!


V.

- Serangga yang lucu.
Jerih-payahmu mengungkapkan wujud-hakiki
Dengan informasi pinjaman yang rinci
Telah meleset dari tujuan jati.
Dan terhempas di gurun-diri 4)
Yang tak hidup dan tak mati.

Final telaahmu baru hinggap
Di sisi luar wujud al-'adam. 5)
Yang dikenal sebagai al-imkan. 6)
Yang tak mungkin dapat dimasuki
Oleh siapa pun yang menghendaki.
Sebelum mencapai fana yang sempurna.
Wujud, cipta, rasa, dan karsanya.

Al-'adam adalah 'ketiadaan'.
Meskipun bukan al-ma'dum. 7)
Wujudnya tanpa wujud tanpa enerji.
Yang menyajikan kemungkinan tanpa potensi.
Sifatnya sekedar menerima
Uluran tangan Yang Mutlak Ada.
Itulah rumah asal alam-semseta.

Wujudnya bagai medan-khayal di balik cermin.
Yang membentangkan kekosongan azali.
Yang tak kuasa menyatakan apapun.
Dan tak mampu menggambarkan apapun.
Adanya sama dengan tiadanya.
Sebelum ada yang hadir memberikan makna.

Ketika Wujud Mutlak menghampirinya.
Pada saat Kun yang pertama.
Kekosongan menjelma wujud-nyata
Yang membentang di cakrawala.
Sebagai medan orientasi kehidupan.
Tempat semua chaos disemaikan.

Iradah-Nya turun di alam-kesadaran.
Berwujud roh yang di-peran-kan.
Sebagai subyek semesta-alam.
Yang tak dapat diobyekkan.
Kepadanya kehidupan dipercayakan.
Dan semua order diturunkan.

Meskipun kedua wujud itu nyata berbeda.
Dan berlatar-belakang hukum yang tak sama.
Namun yang satu pasangan dari yang lain.
Dalam diari setiap persona yang hadir.
Itulah biang-paradoks yang menjelma
Di dalam kehidupan manusia.

Bila roh dapat dianalisa
Praktis dapat diobyekkan seperti benda.
Perbudakan akan menemukan akarnya.
Memaksakan ide, ilusi dan kemesuman
Akan terangkat sebagai budaya-zaman.
Maka tumpaslah kebebasan yang ada
Bersama angan-anganmu yang nista.


VI.

Wujud Multak yang hidup tanpa kematian.
Menyatakan diri lewat cermin-penciptaan.
Tanpa menyentuh medium cipta.8)
Tanpa bersemayam di dalamnya.9)
Apalagi bersatu-padu dengan-Nya.10)
Demikianlah pengejawantahan-Nya.
Yang tanpa melibatkan Zat-Nya.

Seperti lazimnya orang berkaca.
Ia hanya bertajalli di atasnya.11)
Baik kaca maupun refleksi yang diungkapkan.
Mustahil dapat mengidentifikasi wujud yang menggunakan.

Kaca hanya tempat menyatakan diri.
Dan refleksi hanya sekedar bukti
Dari kehadiran Amer dan Iradat Illahi.
Hingga tiada sesuatu pun bisa luput.
Dari jangkauan tangan Yang Maha Liput.
Seperti kehadiranmu Kini, Serangga.
Di luar sadarmu tersirat perintah-Nya
Untukku menyajikan Menu Baka


VII.

- Pulanglah Si Anak Hilang!
Ke pangkuan Hidup yang semestinya.
Bukan ke Sangkar Kosong yang kekal.
Atau ke dalam Jaringan Fisikal
Apalagi kepada Supernova
Yang datang-pergi tanpa mengenal dirinya.

Di dalam PENGABDIAN pun penuh kehangatan.
Yang dapat melepaskanmu dari kehampaan.
Bila engkau telah menemukan makna-nya
Semua kausa yang ditegakan
Akan transparan di matamu yang telanjang.
Dan lenyaplah pola-kebetulan.
Sinkronisiti akan bekerja dalam dirimu
Hingga kau dapat merespon duniamu.
Meski dari balik tirai waktu.

Maka akan melejitlah pijakanmu.
Tidak hanya bumi, langitpun alas kakimu.
Mekanisme alam akan terpuruk di depanmu.
Bahkan kiamat akan tertunda oleh vibrasimu.
Jika tidak, tertawakan aku !

Bila engkau enggan menjamahnya.
Karena asyik dengan diri semata.
Jangan salahkan semesta.
Dan aku hanya bisa berkata:
-'Semoga selamat dirimu,sayang.
Dari segala tuntutan.
Yang wenang atasmu segala kemungkinan.'

Barzakh, 07 Mei '01

 

*) Makna:

1. sarang laba-laba = jaringan ruang waktu.
2. kesementaraan = discontinuiti; pasangan continuiti.
3. wujud insan = pengabdian = perbuatan positif
4. gurun diri = al-'adam
5. al-'adam = ketiadaan
6. al-ma'dum = tak ada
7. al- imkan = medan kemungkinan
8. menyentuh = berhubungan = ittishal
9. bersemayam = bertempat tinggal = ittihal
10. bersatu padu = manunggal = ittihad
11. tajalli = menyatakan diri


 

Keterangan:

ADA :
    A. Ada Mutlak
    B. Ada Nisbi

TAK ADA:
    a. Tak ada mutlak
    b. Tak ada Nisbi


A. Ada Mutlak:
Ada sediakala dan Senantiasa,yang bersifat Sempurna dan berkedudukan
sebagai Fa'il (Subjek) yang menciptakan alam-semesta.

a. Tak ada Mutlak: Al-Ma'dum;
tak ada gunanya untuk dikenal. Cukup difahami keberadaanya.

B. Ada Nisbi:
Alam semesta dan seisinya yang bergantung kepada 'Ada Mutlak'.
Medan managerial Tuhan diwujudkan.

b. Tak ada Nisbi:
Wujud-potensial yang tersimpan dibalik Ada Nisbi (Alam semesta).
Medan kewenangan Tuhan.

Pencerahan:

'Roh' turun dari 'Iradat Allah', berkedudukan sebagai subyek di dalam diri dan semestanya. Rahasianya ada dibalik angka (bilangan) yang bersifat ghaib.
'Realita' lahir dari 'Amer Allah', sebagai medan atau lingkungan tempat 'roh' merealisasi kekuasaannya. Rahasianya ada dibalik 'huruf' yang bersifat nyata.
'Kekuasaan' berinteraksi dengan 'realita' mewujudkan gerak 'sintesis' yang disebut penciptaan. Setiap bentuk sintesis diatur oleh ilmu Allah.
Ketegangan dialogis antara dua wujud yang berbeda harus dipelihara, supaya melahirkan momen penciptaan. Pemeliharaannya disebut Ibadah(dengan ilmu Allah).
- Roh berdialog dengan Allah dipelihara dalam bentuk Sholat.
- Qolb berdialog dengan amer-Nya dipelihara dalam bentuk Zakat.
- Akal berdialog dengan qodrat-Nya dipelihara dalam bentuk Puasa.
- Pikiran berdialog dengan Kholq-Nya dipelihara dalam bentuk Hajji.

Ibadah menolong ummat manusia untuk menemukan identitas dirinya yang utuh. Ia dapat menguakan Misteri Keterbatasan Diri,hingga mencapai kesempurnaannya sebagai Insan Kamil yang seimbang. Inilah metodologi proses (tharekat) satu-satunya yang diwariskan Rasul Allah Muhammad s.a.w. kepada ummat manusia.

  1. Manusia adalah Mahluk Terbatas dan memiliki Keterbukaan terhadap Yang Tak Terbatas. 'Syahadatain' memadukannya dan ia menemukan diri sebagi Mahluk Rohani.
  2. Manusia adalah Mahluk Rohani dan sekaligus Mahluk Jasmani. 'Sholat' memadukannya dan ia menemukan dirinya sebagai Mahluk Pribadi.
  3. Manusia adalah Mahluk Pribadi dan Mahluk Sosial. Dan 'Zakat' memadukannya, maka ia menjadi Mahluk Budaya.
  4. Manusia adalah Mahluk budaya dan Mahluk Qodrati. 'Puasa' memadukannya, ia-pun menjadi Mahluk Sejarah.
  5. Manusia adalah Mahluk Sejarah dan Mahluk Kosmis. 'Hajji' memadukannya dan ia menjadi Mahluk Abrar' (Insan Kamil) yang utuh dan seimbang.
Di sini dua dimensi kenyataan, continuiti dan discontinuiti, menemukan paduannya dalam setiap tahap.


 

Muhammad Zuhri
PATI


 


  Kembali ke
Karya Tulis Pak Muh