Bismillahirrahmanirrahim

PUASA
MINIATUR PERJALANAN KAUM MUSLIMIN

Oleh: Muhammad Zuhri



Puasa adalah sebuah ibadah yang bersifat temporal dan berorientasi pada kebenaran. Itulah sebabnya maka puasa belum tentu dapat membuahkan sebagaimana yang dijanjikan – yaitu taqwa, sebelum pelakunya memiliki tujuan yang benar terlebih dahulu. Dan tujuan itu adalah mengabdi kepada Allah demi mencapai ridla-Nya, yang dinyatakan lewat perbuatan shalat.

Perjalanan ke sana adalah perjalanan yang teramat jauh untuk dapat dijajaki dengan ukuran ruang dan waktu. Usia manusia terlalu pendek untuk menggapainya. Maka diperlukan waktu yang efisien, yang memungkinkan seseorang untuk melakukan transendensi-transendensi (lompatan-lompatan) yang tidak berdampak melumpuhkan kemandiriannya sebagai makhluk individu. Maksudnya ia masih tetap potensial menanggungjawab eksistensinya di muka bumi, sehingga urusan duniawinya tidak bergantung kepada pihak lain. Selain itu, dapat berlangsung di dalamnya proses transformasi kesadaran terhadap makna ‘diri’ dan ‘semesta’-nya.

Menyadari Diri dan Alam

Seseorang tidak akan dapat menyadari nilai apa pun di dunia ini sebelum ia bersedia mengambil jarak darinya dan menjadikannya sebagai obyek pemahaman. Demikian pula bila kita ingin mengenal ‘diri’ sekaligus medan operasionalnya yang berupa ‘alam’, kita harus rela berjarak dengan-nya. Caranya dengan melaksanakan ibadah puasa, yaitu berhenti melayani tuntutan-tuntutan ‘jiwa’ dan ‘raga’ selama waktu tertentu. Pada saat itu kita akan merasakan betapa lemahnya ‘diri’ dan betapa tingginya nilai sumber daya alam (rahmat) bagi kehidupan manusia.

Sebelum itu kita memiliki praduga yang salah terhadap kenyataan. Diri kita selalu merasa lebih tinggi dari semua yang ada di kolong langit. Alam seisinya hanya kita anggap sebagai milik yang sepantasnya untuk diperebutkan dan dimanfaatkan sekehendak hati. Seolah dunia ini boleh saja kiamat setelah kita selesai menggunakannya. Padahal tidak demikian kenyataannya.

"Sungguh, penciptaan langit dan bumi jauh lebih hebat dari penciptaan manusia. Sayang, kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Q. Al-Mu’min: 57; baca pula At-Tin: 5).

Ketinggian martabat manusia di depan alam bukanlah terletak pada ‘persepsi mereka’ tentangnya, melainkan pada ‘iradah’ Tuhan yang menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi (lihat Q.2: 30,34).

Sikap hidup kaum Muslimin tidak bergantung pada ‘persepsi’ yang selalu berubah-ubah sifatnya dan tidak keruan ujungnya. Selain itu persepsi hanyalah hasil aktifitas akal di dalam menginterpretasikan fenomena alam (kehidupan) untuk mengembangkan wawasannya tentang kenyataan, dan tidak akan pernah memadai untuk diangkat sebagai pemandu kehidupan.

Biang keladi kejatuhan Iblis dari surga ke dalam neraka adalah karena ia mencoba menggunakan ‘persepsi’-nya untuk membantah Tuhan, ketika ia disuruh bersujud kepada Adam.

"Sabda Tuhan: ‘Apa yang menghalangimu untuk bersujud ketika Ku perintahkan kepadamu?’ Iblis menjawab (berpersepsi): ‘Aku lebih mulia darinya. Kau ciptakan aku dari api, sedang ia Kau ciptakan dari tanah liat." (Q.7: 12).

Potensi akal yang sedianya diamanatkan Allah kepada manusia untuk mengurus alam, disalahgunakannya untuk kepentingan pribadi (nafsu, etnis, ideologi, dls.), akibatnya mereka akan menemukan dirinya sebagai budak benda-benda dan ciptaannya sendiri.

Situasi Komunikatif Dengan Tuhan

Transendensi yang terjadi pada saat seseorang berjarak dengan ‘diri’ dan ‘alam’-nya adalah mereka dapat berada dalam ‘situasi komunikatif’ dengan Tuhannya. Dengan kata lain ia telah memiliki kondisi layak berdialog dengan Allah.

Sebagai figur khalifah, setiap insan memiliki kepentingan yang sangat besar untuk dapat berdialog dengan Majikannya, supaya ia tahu persis apa maunya ‘Sang Majikan’ dengan menurunkan berbagai macam kenyataan seperti baik-buruk, salah-benar, suka-duka dan sebagainya. Dengan demikian perjalanan hidupnya tidak hanya akan diwarnai dengan ketegangan, kesedihan atau keputusasaan yang tak pernah purna.

Tokoh Nabi Musa a.s. yang hidup di perantauan dan di bawah kekuasaan Fir’aun yang perkasa dan zalim merupakan lambang penderitaan seorang musyafir di bumi Tuhan. Ketika pengembaraannya sampai di bukit Sinai, beliau diperintah Tuhan untuk menanggalkan kedua terompahnya, supaya dapat diajak berdialog demi mencairkan stagnasinya (lihat Q. Tha-Ha: 12).

Dua terompah ‘kanan dan kiri’ merupakan simbol dari kedua pijakan manusia di atas semesta eksistensial, yaitu jiwa dan raganya. Allah tidak berkenan berkomunikasi dengan hamba-Nya, selama baju eksistensialnya (jiwa dan raga) belum dilepaskan.

Demikian pula halnya dengan kaum Muslimin di bulan Ramadlan. Sebelum berbuka puasa permohonan mereka akan diterima Tuhan (komunikatif dengan Tuhan). Tentu saja bukan permohonan yang akan merusak situasinya pada saat itu, melainkan tentang apa saja yang diperlukannya di dalam rangka menyelamatkan ummat dan semestanya, termasuk kebutuhan pribadinya sebagai khalifah. Mereka memohon ridla Allah untuk mengungkapkan segala bentuk potensi diri dan alamnya.

"Ya Allah, kami memohon ridla-Mu dan efektifitasnya (surga), dan kami berlindung dari murka-Mu dan akibatnya (neraka)."
"Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pengampun dan suka memberi ampunan. Ampunilah kami, wahai Yang Maha Dermawan."

(Doa shoimin sebelum berbuka)

Menemukan Diri Sebagai Raja

Kondisi shoimin pada saat melepaskan diri dari pengaruh jiwa dan raganya adalah ‘kondisi kematian’. Ketika itu martabat spiritual mereka setara dengan martabat spiritual seorang Raja yang adil atau seorang hamba yang teraniaya / mazlum (Tiga golongan yang doanya dikabulkan Tuhan – Hadits Nabi s.a.w.).

Penderitaan mereka mengisyaratkan wujudnya kekuatan dahsyat yang tersembunyi di balik dirinya. Mereka tidak memungut fasilitas alam untuk menopang tubuhnya, tetapi dihimbau untuk mengeluarkan shadaqah yang sebanyak-banyaknya. Mereka adalah sekelopok orang yang tidak sanggup menyembunyikan sesuatu di tengah-tengah masyarakatnya yang kekurangan. Bahkan mereka lebih mengutamakan kepentingan pihak lain meskipun diri mereka sendiri sangat membutuhkan (lihat Q. Al-Hasyr: 9).

Mereka rela menunda segala kenikmatan yang dapat mereka pungut kapan saja mereka mau, - bukan untuk apa-apa, hanya mau mengajari diri sendiri untuk bersabar, karena nikmat yang diharapkannya hanya ada di hari liqa’ (berjumpa Allah). Dan penderitaan pun tidak menjadi tampak penting di matanya, karena yang mereka risaukan hanya liqa’.

"Waj’al khaira ayyami yauma alqaka fihi"
‘Dan jadikanlah sebaik-baik hariku, hari pertemuanku dengan-Mu’.

(Doa Rasulullah s.a.w.)

Mereka adalah orang yang telah berhasil menegakkan pengawas, hakim, dan bahkan raja – paling tidak buat diri mereka sendiri. Lebih dari semua itu, - tetapi hal ini mungkin tidak mereka sadari, telah tumbuh di dalam sanubari mereka rasa cinta-kasih yang besar terhadap seluruh kehidupan yang terhampar di cakrawala ini. Dan itu berarti bahwa mereka telah memetik kebahagiaan yang berlimpah, utuh, dan abadi dari kehidupan mereka (lihat Q. 55: 26).

Keberanian mereka menghayati kematian seperti itu sama artinya dengan keberanian menanggalkan kepribadiannya yang lama. Dan ‘keberanian menanggalkan kepribadian yang lama’ merupakan bagian integral dari proses perkembangan mental dan spiritual ummat manusia. Hidup, mati, kemudian hidup kembali dengan sikap yang baru – dan seterusnya, adalah ‘irama kreatifitas Tuhan’ yang dawam di dalam mengembangkan makhluk-Nya (‘Idul Fitri).

‘Tiada berkah matahari terbit hari ini – bagiku, bila diriku tidak lebih baik dari kemarin.’ (Hadits Nabi s.a.w.).

Kekuatan dahsyat di dalam menghayati penderitaan tanpa mengeluh yang tersembunyi di dalam diri shoimin, membuat mereka terpanggil untuk melayani semestanya. Dan rasa cinta-kasih yang bersemayam di dalam dadanya membuat mereka siap untuk memenuhi panggilan tersebut (lihat Q.28: 77)

Demikianlah semestinya kwalitas ‘Shibghah Tuhan’ - yang jauh berbeda dengan sentuhan alam (lihat Q.2: 138). Mereka selalu siap memberikan apa saja yang dimilikinya kepada siapa yang membutuhkan (lihat Q.5: 3, 3: 92), meski tak seorang pun pernah dapat menolongnya (lihat Q.53: 39). Karena apa yang mereka butuhkan tak dapat diberikan oleh siapa pun selain Allah, yaitu ‘ridla-Nya’ (lihat Q. 5: 119).

Momen transendensi dari seorang budak hawa nafsu menjadi seorang raja yang mampu mengantarkannya ke haribaan Allah itulah yang dinamakan saat Lailatul Qadar (lihat Q.97: 3). Itulah hari kebangkitan jiwa dari kuburan tubuh (qiyamat sughra), dan itu pula yang disebut sebagai ‘saat’ yang ditunggu-tunggu oleh seluruh warga alam, karena kehadirannya akan membawa perubahan besar di dalam semestanya (lihat Q.5: 54).

Ketika Rasulullah s.a.w. ditanya tentang ‘saat’ (qiyamat), beliau menjawabnya secara simbolis:
"Bila seorang budak telah melahirkan majikannya."
Dan bidannya pastilah ‘puasa’.

Sekarjalak, 27 Desember 1999




Kembali ke
Karya Tulis Pak Muh