Bismillahirrahmanirrahim

PUASA, SIKAP GLOBALIS YANG AKURAT

Oleh : Muhammad Zuhri

Puasa adalah sebuah cara yang akurat di dalam mensikapi diri dan semestanya, agar dapat menjangkau kelestarian dan keseimbangan antara keduanya.

Semua agama besar di dunia, baik agama samawi (wahyu) maupun agama wisdom (kebijakan) sepakat menggunakan puasa sebagai satu-satunya sarana tehnis untuk mencapai kondisi diri yang bersitat robbani, yang mampu menawarkan keabadian. Ratusan juta ummat manusia setiap tahunnya berusaha mempertahankan kelestarian diri dan semestanya dengan menempuh Jalan Lapar.

Tak seorang pun tahu siapa penemu Jalan Lapar yang keramat itu, sehingga Para Nabi dan orang-orang Bijak di dunia tanpa ragu menghimbau ummat manusia untuk menunaikannya. Kitab Suci Al-Qur'an pun mengisyaratkan kepurbaan tradisi lapar tersebut lewat ayat:
"... kama kutiba 'alalladzina min qoblikum ..." yang artinya 'sebagaimana telah diwajibkan atas umat sebelum kamu' (Al-Baqoroh:183).

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa setiap persona Para Nabi telah memiliki suatu kesadaran yang oleh Para Ilmuwan baru ditemukan di abad sembilan belas, yaitu:

Bila dua kesadaran tersebut bertemu di dalam diri seorang yang serakah (materialis), maka akan muncullah sifat kolonialis dan imperialis, sebagaimana pernah diderita oleh ummat manusia setengah abad yang lalu, yang belum pulih lukanya hingga kini.

Tetapi ketika kesadaran tersebut bersemayam di dalam diri orang yang cinta akan kehidupan dan ummat manusia, maka akan melahirkan sikap positip terhadap diri dan semestanya yang berwujud ibadah puasa, yaitu melatih ketahanan diri agar mampu memungut fasilitas alam seminimal mungkin untuk kebutuhan hidupnya. Karena fasilitas alam yang langka tak seharusnya diperebutkan dengan mengorbankan pihak lain atau dihamburkan untuk memanjakan nafsu, melainkan untuk dimanfaatkan seefisien mungkin demi kelestarian hidup bersama.

Dengan demikian, ibadah puasa merupakan partisipasi orang beriman terhadap kemenijeran Tuhan di muka bumi.

Adapun fenomena yang tampak pada pribadi yang ikhlas berkorban (shoimin) demi kepentingan bersama adalah dimilikinya keteguhan hati di dalam menatap kenyataan dan pandangan yang positip terhadap kemungkinan. Dengan ungkapan lain, seorang shoimin telah dikaruniai kondisi diri yang tidak cedera oleh perubahan ruang dan pergeseran waktu. Efek psikologis yang demikian itu wajar bagi seseorang yang telah berbuat sesuatu atau memberikan dirinya buat masa kini dan masa depan.

Hal itu disebabkan di dalam penghayatan puasa (katakan 'berkorban buat semua') selama satu bulan, dapat terjadi proses transformasi kesadaran yang berwujud lenyapnya 'irodah insaniah' menjadi 'irodah robbaniah', yaitu kehendak pribadi yang telah menjadi sesuai dengan kehendak Tuhan. Bahkan bermacam-macam kemampuan adi-kodrati dapat terungkap pula pada saat itu, namun hal itu bukan merupakan tujuan puasa yang Islami. Keberadaannya lebih bersifat sebagai bonus dari Robbul-'alamin bagi mereka yang menghendakinya (stimulan dari Allah). Tetapi stimulan bisa berdampak negatif bagi orang yang cukup puas dengan fasilitas tersebut dan tidak tergerak untuk mencapai tujuan puasa yang sebenarnya.

Demikianlah kondisi taqwa yang dijanjikan Allah kepada para Shoimin yang beriman dan berihtisab, bagai kondisi seorang yang belum pernah berbuat dosa di masa lalu, tak terbebani oleh kenyataan dirinya.

Maka jelaslah bagi kita bahwa kondisi taqwa merupakan partisipasi Allah terhadap Shoimin yang telah rela berkorban buat semua makhlluk-Nya.

Mereka yang beruntung mendapatkan kondisi tersebut dapat disaksikan dampak positipnya terhadap masyarakat, karena kadar dirinya yang bersifat vested-interest telah berubah menjadi kadar pribadi yang siap mengambil alih kemenijeran Allah di wilayah dan kesempatan yang dapat dijangkau.

Pribadi yang demikian diibaratkan telah mendapatkan Lailatul Qodar dari puasa-abadinya di tengah masyarakat yang sedang menunggu-nunggu hasil kreatifitasnya yang membebaskan pihak lain. Dia telah sanggup menyongsong misi 'rahmatan lil 'alamin' yang diwariskan Rasul SAW kepada kaum Muslimin, yang kehadirannya memadai, dan siap "Hamemayu ayuning jagad wasana".

Demikianlah yang semestinya.

Sekarjalak, 10 Januari 1997



Kembali ke
Karya Tulis Pak Muh