Bismillahirrahmanirrahim

MENCARI TUHAN LEWAT SENI ?

Oleh : Muhammad Zuhri

BILA FAJAR
(PUISI PENGANTAR)

Tuhan
Kapan Engkau hilang, hingga aku mesti mencari-Mu
Kapan Engkau samar, maka aku harus membuktikan-Mu
Kapan Engkau jauh ya Allah
sedang tetes embun dan semak belukar di rimbaraya
tak sanggup berpisah dengan-Mu
Bahkan Para Pendusta, Iblis dan Syaithan
sepakat sirna tanpa-Mu

Ilahi
Sungguh Engkau tiada mungkin dicari
tetapi Engkaulah yang memanggil kami
Siapakah yang mampu menyatakan wujud-Mu?
Bukankah Engkau sendiri yang menyatakan Diri?
Nyatakan kehadiran-Mu, -ya Maulaya, dalam sukma
seperti matahari yang melayang di telaga
Singkapkan hijab tak berupa
bagai sekuntum mawar dan harumnya
hingga tiada antaraku antara-Mu antara
Bila fajar menyingkap tabir malam
kehidupan baru telah membatalkan kematian

Sekarjalak, 17 Desember 1996

Sebelum kita berangkat berbincang tentang peran seni di dalam kehidupan bertuhan, terlebih dahulu, kita perlu mensetarakan wawasan kita tentang Tuhan, Ya, meskipun kita sadar bahwa wawasan tentang Tuhan bukanlah Tuhan itu sendiri, dan berbincang tentang-Nya membuat kita semakin jauh dari-Nya.

Begitu pula kita membutuhkan pemahaman yang sama tentang seni, karena hanya dengan bahasa dan pengertian yang sama sebuah dialog bisa dimulai.

I.

Kata "Tuhan" adalah sebuah istilah yang menyimbolkan Wujud Mutlak, Sempurna, Hidup dan Berdiri Sendiri, tempat bergantung semua wujud nisbi yang ada.

Dia adalah Rob atau Manager Kehidupan, Suplayer Kebutuhan, dan pengembangan nilai keberadaan lewat hukum dan tradisi Ketuhanan-Nya.

Dia adalah Ilah yang Wajib disembah dan dipuji, yang memberi sangsi, pidana dan pahala, tempat berlindung dan mengharapkan ampunan dan pertolongan.

Dia adalah subyek satu-satunya yang tak pernah dapat di obyekkan. Maka Dia tak dapat dilihat, dikenal, dicari, dibuktikan, dinyatakan, ataupun dibayangkan. Tiada pola di alam nisbi bagi-Nya. Ringkasnya Dia selalu luput dari verba pasif makhluk-Nya.

II.

Seni adalah manifestasi keindahan yang lahir lewat kreatifitas sadar manusia. Pruduk keindahan yang tak disadari dikatakan bernilai seni.

Adapun hakekat keindahan adalan manifestasi sifat Jamaliyah Allah yang imanen di dalam setiap wujud ciptaan-Nya. Setiap sesuatu tampil dalam keindahan yang unik, begitulah Yang Maha Indah di dalam mencintai keindahan.

III.

Meskipun bersifat subyektif seni memiliki nilai universal, sehingga dapat direspon oleh observer yang berbeda etnis dan corak kehidupannya. Karena medan operasional seni adalah situasi kehidupan (alam) yang melibat semua bangsa.

Seni memiliki daya mampu untuk menggerakkan semangat manusia, membakar kemarahan, membuai hati kedalam kenyataan yang tak berwujud dan bisa menidurkan. Seni adalah 'sihir' yang Bebas Nilai (nilai tergantung manfaat dan mudhorotnya).

Oleh karena itu sejak purba, seni selalu dikendarai oleh Agama dan Filsafat untuk mengarahkan gaya hidup manusia (Maha Barata, Ramayana, Teater Yunani, Opera, Patung-patung di gereja dan Vihara, Nyanyian suci, Tarian bangsa Inca dan Maya, Masnawi Rumi, Qasidah dan Qira- atul Qur'an, dll).

Lebih dari semua itu terdapat satu hal yang kita berdosa besar bila sengaja melupakannya, adalah jasa para Wali di tanah air, ketika mereka memodifikasi Kekawin Maha Barata ke dalam drama wayang kulit sebagai mimbar informasi Islam bagi masyarakat Hinduis. Mereka membiarkan personifikasi 'baik-buruk' dan 'salah-benar' tanpa dirubah dengan nama-nama Arab yang islami (Yudistira, Bima, Harjuna, Suyudana, Durna, Bisma, dls) sehingga masyarakat tanpa curiga dapat terbawa isi dialog dan jalan ceritanya yang telah diislamisasikan.

Sungguh ironis, mustahil dan langka tapi nyata, mengislamkan masyarakat hinduis dengan kitab suci Agama Hindu.

Bila drama wayang kulit berhasil menjadi ujung tombak menginformasikan Islam (sektor da'wah), instrumen atau gamelan yang mengiringinya diisi dengan ajaran syareat dan filosofis Islam.

Nada dasar yang digunakan di dalam menyusun gending (lagu instrumental) adalah: neng, ning, nung, nang. 

2. Ning dari kata 'Wening' yang artinya jernih. Sebagai Hamba Allah seorang Muslim harus memiliki perasaan dan fikiran yang jernih, sehingga dapat menyadari bahwa setiap individu yang lain adalah Hamba Allah juga. Maka ia wajib berintegrasi dengan lingkungan sosialnya dengan menunaikan Zakat, infaq, dan shadaqah.

3. Nung dari kata 'Kasinungan' yang artinya dikaruniai kekuatan dari Tuhan. Meski berat seperti apapun beban sosial yang ditanggung seorang Muslim, ia tidak boleh cuci-tangan dan berputus-asa. Ia dapat memohon kekuatan ekstra dari Robbul-alamin dengan melakukan Puasa di bulan Ramadhan.

4. Nang dari kata 'Kewenangan' yang artinya kekuasaan. Meskipun seorang Muslim dengan Power Ekstra dari Robbul-alamin telah bebas dari kendala alami, namun ia tidak berhak untuk mendayagunakan dengan motifasi pribadi. Power tersebut harus digunakan untuk kepentingan ummat manusia (mewakili Tuhan di muka bumi), dengan kata lain Bi amrillah, sehingga ia memiliki kewenangan di dalam ruang lingkup kemenejerannya. Seorang Muslim dapat menahan diri untuk kepentingan ummat manusia bila ia berhasil Mabrur ibadah Hajjinya.

IV.

Babad Islam (Islamisasi) di tanah air kita pada tahap awal tidak dapat lepas hubungannya dengan Ajaran Para Wali (tasawwuf), hikmah atau kebijakan di dalam menghadapi realita kultural dan kreatifitas seni yang handal mengarungi zaman.

Bila 'seni abadi' yang telah berhasil menjadi ujung tombak ajaran Tauhid hendak kita musiumkan, kita harus siap dengan penggantinya yang memadai buat selera zaman. Namun satu hal yang tidak boleh kita abaikan, yaitu tiada keabadian dalam hasil kreatifitas seni tanpa konsep yang akurat yang melatar-belakanginya.

Kreatifitas positif dari para seniman adalah 'amal salih' yang tak diragukan nilainya. Tetapi amal yang salih (baik) di dalam pandangan akal manusia belum tentu dapat melangit atau sampai ke Hadirat Ilahi bila tanpa roh. Dan roh amal adalah Ikhlas.

Meskipun ikhlas telah memberi sayap kepada amal salih untuk terbang ke Hadratullah, ia belum mendapat tanggapan yang berupa " jaza' " dari Robbul-alamin kalau tanpa kiblat. Dan kiblat amal salih adalah 'mardlotillah'.

Mardlotillah yang telah dimiliki oleh seorang kreator ('amil) memang tak ternilai harganya, tetapi ia tidak mampu membawa orang lain untuk ikut menikmatinya bila terdapat setitik motifasi di hati pelakunya. Maka bebaskanlah hati dari segala motifasi dengan bertindak 'Bi amrillah'.

Maka sampailah kita di kalbu agama yang disebut Samodera Tauhid (Negeri Kebenaran).

Billahit taufiq wal hidayah.



Kembali ke
Karya Tulis Pak Muh