Bismillahirrahmanirrahim
 
SELINTAS MENYINGKAP RAHASIA 
MALAM QADAR


Oleh : Muhammad Zuhri 

 

Sebagai makhluk yang sadar akan keberadaan dirinya, ummat manusia terlibat tanggung-jawab langsung terhadap kelestarian wujudnya di muka bumi. Konsekuensinya membuat setiap individu perlu mengetahui dimana sarana kelangsungan hidupnya didapatkan. Proses kegiatan mengenal lingkung alam yang menyimpan sumber-daya yang dibutuhkan itulah yang disebut membaca.

Tetapi ternyata binatang pun telah melakukan kegiatan serupa di dalam mempertahankan hidupnya. Mereka tidak memakan batu atau meminum pasir ketika merasa lapar dan dahaga. Jelas membaca yang demikian tidak membutuhkan petunjuk dari Robbul-alamin yang berupa firman, karena sejak dini telah diwahyukan olehNya secara langsung ke dalam kodratnya sebagai ‘dabbah’ (makhluk hidup berjasad).
 

Wahyu Iqra’

Wahyu Iqra’ bismi robbik hanya diturunkan buat ummat manusia, karena merekalah jenis makhluk yang mampu berperan sebagai subyek di dalam semestanya. Ia mampu mengambil jarak dari dirinya sendiri dan mengobyekkannya seakurat mungkin menurut pola kebenaran yang telah dimiliki. Untuk itu mereka akan memperoleh kenikmatan lain yang berupa kenikmatan bereksistensi. Suatu kenikmatan yang jauh lebih tinggi dibanding kenikmatan mendayagunakan sarana. Bahkan lebih abadi sifatnya, karena berwujud nilai keberadaan.

Bila mereka gagal menemukan dirinya di dalam nilai, mereka akan menanggung rasa malu. Yaitu suatu perasaan yang tak pernah hadir di dalam diri binatang, yang menandakan bahwa dimensi tersebut tidak diperuntukkan buat mereka.

Perasaan malu itulah yang dikemukakan Nabi SAW sebagai fenomena wujudnya iman di dalam diri. Sesuatu dengan apa Sang Robbul-alamin berkenan membuka dialog antar persona dengan makhluk-Nya.

Kemudian apakah sebenarnya rasa malu itu? Mengapa keberadaannya di dalam diri menandakan wujudnya iman? Dan apakah iman itu? Mengapa ia mampu menjembatani antara Yang Mutlaq dan yang nisbi?
 

Rasa malu dan Iman

Rasa malu adalah perasaan yang timbul di dalam sanubari manusia ketika ia menemukan dirinya dalam keadaan krisis nilai, sementara kesadarannya masih berorientasi kesana.

Rasulullah SAW mengidentikkannya dengan iman, karena keberadaannya di dalam diri mengandaikan wujudnya jiwa yang berorientasi pada masa depan yang kwalifaid. Jiwa yang demikian tidak akan pernah berputus-asa menghadapi kenyataan yang tak diharapkan, betapa pun pahitnya.
"Sesungguhnya tiada berputus-asa dari rahmat Allah, selain orang-orang Kafir" (Yusuf:87).

Sedang kata ‘beriman’ menyimpan makna berorientasi masa depan yang sempurna atau memiliki tujuan yang benar, yang tak lain adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri. Maka jelaslah bahwa kiblat ‘rasa-malu’ sama dengan kiblat ‘iman’. Kondisi tersebut merupakan kondisi hadirnya tujuan yang benar di dalam kesadaran seseorang. Meskipun pada waktu itu wujudnya masih bersifat potensial atau kemungkinan yang menunggu kesempatan aktualnya, namun keberadaannya di dalam diri berefek positif dan dapat diharapkan.
 

Singgasana Rububiyah

Di dalam Surat Hud ayat 7, kita jumpai tiga kalimat yang akan menjelaskan kenyataan tersebut :

- Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari

- Sedang ‘Arsy-Nya di atas air.

- Supaya dapat Ia menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya.

Bila kita membaca kalimat pertama dan kedua, kita mendapatkan pengertian bahwa ketika Robbul-alamin mengurusi alam fisikal (langit dan bumi), singgasana Rububiyah-Nya ada di atas air (atom Hidrogen). Orientasi kita kepadanya akan menghasilkan kekuatan dahsyat yang dapat menghancurkan alam fisikal. Kesadaran manusia yang mampu memasuki dimensi tersebut akan diliputi Hisness-Nya (ke-Dia-an) Tuhan, bagai Musa AS yang dikaruniai tongkat mu’jizat di tangannya.

Setelah kita hubungkan dengan kalimat yang ketiga kita memperoleh petunjuk bahwa Singgasana Rububiyah-Nya di alam spiritual berada di atas kalbu orang beriman. Yaitu hati yang bersifat integratif, seperti air yang selalu mengalir ke bawah di dalam mencapai keutuhan eksistensial. Oleh karena itu perbuatan menganiaya orang mukmin sama artinya dengan menyatakan perang kepada Tuhan (Hadits Qudsi). Bila kesadaran kita mampu memasuki dimensi tersebut, kita akan menjadi seorang mukmin yang sejati atau insan tauhid.
 

Nuzulul Qur’an

Dengan pengantar tersebut di atas kita dapat memahami bahwa Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa turunnya Singgasana Rububiyah Allah di atas kalbu Muhammad SAW, supaya Ia dapat menunaikan kemanajeran-Nya di muka bumi.

Peristiwa itu harus terjadi, karena kehidupan ummat manusia membutuhkan panduan yang memadai demi mewujudkan ide-Nya yang agung, yaituBaldatun thoyyibatun wa robbun ghafur’. Jika tidak, bumi yang penuh rahmat Allah ini akan menjadi kancah perebutan fasilitas yang mengakibatkan kehancuran bersama karena kebodohan dan penyalahgunaan penghuninya sendiri (sifat dlollun dan maghdlub).

Turunnya Singgasana Rububiyah Allah di atas kalbu hamba-Nya yang terpilih merupakan satu-satunya alternatif yang dipilih oleh Robbul-alamin, karena Allah Pribadi tidak berkenan turun ke wilayah ciptaan-Nya. Hal itu disebabkan di antara Samudra Kemutlakan Allah dan Samudra Kenisbian Alam telah diciptakan Barzakh, sehingga keduanya tak akan membaur (Ar-rahman: 20). Sedang sabda-Nya saja bila diturunkan di atas sebuah bukit akan berakibat kehancuran, karena tidak kuasa menanggungnya (Al-Hasyr: 21).
 

Tehnis Mencapai Kebulatan Eksistensial

Di dalam ayat "Bacalah dengan nama Allah yang menjadikan" (Al-’Alaq: 1) terkandung maksud bahwa di dalam membaca setiap obyek yang kita hadapi, kita diwajibkan untuk tidak memotong sesuatu dari asalnya, yaitu Tuhan yang menjadikan. Dengan demikian kita akan memperoleh pemahaman tentang obyek secara utuh, di samping menyelamatkan diri kita dari prasangka yang tidak semestinya terhadap obyek. Yaitu mengkultuskannya sebagai sesembahan yang menjerumuskan kita ke dalam syirik dan merendahkannya sebagai sesuatu yang nista untuk disentuh (bersikap kerahiban/kependetaan yang tidak mewakili kemanajeran-Nya di muka bumi).

Ayat berikutnya "Yang menjadikan manusia dari segumpal darah" (Al-’Alaq: 2) telah mengantarkan kesadaran kita akan adanya titik temu antara diri kita sebagai subyek dan obyek yang kita jamah. Allah yang menjadikan sesuatu sebagai obyek adalah Allah yang menciptakan kita dari sesuatu yang bersifat obyektif, yaitu darah.

Kesadaran akan adanya titik temu antara subyek dan obyek budaya di dalam wujudnya sebagai ciptaan akan melahirkan warna baru dalam kehidupan ummat beriman.

Selanjutnya setiap obyek yang kita temukan di dalam proses kehidupan tidaklah sesederhana penampilan wujudnya. Obyek-obyek tersebut dapat kita temukan dalam keadaan sempurna sebagai sesuatu adalah berkat dukungan berjuta-juta sebab yang menyusun sejarah jadinya, yang berupa proses evolusi alam dan jasa budaya yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, skill dan keterlibatan persona-persona kreatornya. Hal itulah yang disimbolkan oleh Al-Qur’an dengan istilah ‘pena’ dalam ayat "Yang mengajar manusia dengan pena" (Al-’Alaq: 4).

Tersingkapnya makna ‘pena’ sebagai rentetan sebab yang mendukung lahirnya setiap obyek, akan menyadarkan kita pada wujudnya jasa semesta dalam realita budaya. Konsekwensinya akan menumbuhkan kesadaran untuk merespon setiap obyek seakurat mungkin, dengan mengungkapkan kemungkinan baik yang terkandung di dalamnya dan membendung kemungkinan buruknya. Sikap moral tersebut melahirkan tanggung-jawab besar yang kita kenal sebagai ‘Amar ma’ruf nahi mungkar’. Efek aktualisasinya membuat diri orang mukmin utuh dengan semestanya dalam arus kreatif yang tak kunjung henti. Tidak hanya sekedar merasa utuh dengan semesta di dalam ekstase dan semadi yang bersifat statis.

Kondisi tersebut membuktikan daya mampu kita memahami Amr Allah yang tampil di balik setiap obyek yang kita temukan (Al-A’rof: 54). Itulah sesuatu yang tak diketahui ketika seseorang membuka matanya lebar-lebar di depan obyeknya, selain mereka yang dikaruniai cara membaca oleh Allah.
"Mengajar manusia tentang sesuatu yang tak diketahui" (Al-’Alaq: 5).

Metoda membaca yang diajarkan oleh Robbul-alamin tersebut akan mengantarkan kita ke Hadrat Mitra Dialog kita yang sejati. Hanya dengan kesadaran bahwa di balik setiap obyek terdapat Amr-Nya, maka hubungan dialogis kita akan merayu Kuasa Tuhan untuk turun ke medan kreatifitas-Nya. Tentu saja tidak pada diri Sang Subyek Sejarah dan tidak pula pada obyeknya, melainkan pada ‘proses berkembang’ yang berlangsung pada saat berdialog.
"Sesungguhnya Tuhanku berada di atas jalan yang lurus" (Hud: 56).

Oleh karena itulah menurut Al-Qur’an amal salih itu bukan milik pelakunya, melainkan milik Allah semata-mata (An-Nisa: 79). Karena seseorang tidak akan mengungkapkan perbuatan baiknya tanpa mitra dialog yang mampu menggerakkan niat baiknya.

Kerelaan untuk mengungkapkan diri dengan benar dan baik itulah yang disebut Hidayah, dan partner dialog yang mampu menggerakkan terungkapnya kebaikan dan kebenaran itulah yang disebut Taufiq. Sedang sesuatu dengan apa keduanya mampu melahirkannya disebut Rahmat. Adapun proses berkembang yang diperoleh dari hubungan dialogis yang demikian disebut Momen Tauhid atau Utuh di dalam Allah.
 

Hikmah atau Kebenaran Kontekstual

Turunnya wahyu pertama kepada Nabi SAW disebut juga sebagai Malam Qodar, karena pada saat tersebut berlangsung sebuah proses transendensi dari kadar kedirian seorang hamba menjangkau kadar keuniversalan seorang Nabi.

Bagi seorang Muhammad SAW kondisi tersebut berwujud kemampuan mengaktualisasikan wahyu Allah dan perilaku otentik yang disebut Uswatun Hasanah.

Bila hal itu terjadi pada diri pengikut beliau akan berupa kemampuan memahami wahyu Allah yang konteks dengan kebutuhan pengembangan ummat pada zamannya dan perilaku otentik yang disebut Hikmah atau kebenaran kontekstual.

Hakekat kebenaran kontekstual atau Hikmah itu adalah ayat Allah yang diinformasikan lewat aktualisasi diri seorang Arif-Billah (mukmin yang sebenarnya) di dalam mengambil alih kemanajeran-Nya dalam saat chaos (dilematis). Kendatipun bersifat unik, Hikmah memancarkan sinar ke-Ilahi-an dalam sikon tertentu, dan sangat penting sebagai pengetahuan antar persona di dalam proses identifikasi diri.

Kehadiran Ahli Hikmah di tengah ummat menjadi keharusan proses (sejarah) yang tak dapat dipungkiri. Makna ungkapan ‘Bagi setiap ummat seorang rasul’ tidak terbatas pada Rasul yang membawa Risalah saja, melainkan juga hamba Allah yang diberi kemampuan membawakan Risalah yang telah diturunkan demi pengembangan ummat manusia.

Setelah Rasulullah SAW turun, ummat manusia telah dianggap dewasa dan tidak perlu terus-menerus disuapi nilai dari sisi-Nya, melainkan cukup dengan semua yang telah diterima sebagai rujukan hukum setiap kali menghadapi permasalahan baru. Tak ubahnya seperti seorang ayah yang rela melepas anak-anaknya yang telah dewasa untuk mengembangkan nilai-nilai yang telah ditanamkan sebelumnya.

Ahli Hikmah akan terus hadir dalam setiap zaman, karena perannya tak dapat diwakili oleh segudang referensi yang tak mungkin mampu merespon masalah. Mereka adalah subyek sejarah yang hadir setiap saat diperlukan untuk membentuk kepribadian ummat yang telah bergeser dari shirath yang lurus. Mereka disebut juga sebagai ibu kebenaran kontekstual yang bermukim di hari esok dan berpijak di atas bumi kekinian.

Tentu saja kondisi tersebut tidak mungkin bisa dicapai dengan sekedar berkontemplasi dan beribadah semalam suntuk di penanggalan ganjil dalam sepertiga akhir bulan Ramadlan. Kondisi diri yang demikian hanya lahir dari proses panjang seorang Asyik didalam bersentuhan dengan Ma’syuk-nya dalam samudra kehidupan yang tak berwatas. Namun tanpa panduan Robbul-alamin lewat tehnis membaca yang sempurna, seribu bulan tak akan cukup untuk mengantarkan kita ke Hadrat Mitra Dialog yang sejati.

"Celupan Allah. Celupan siapa yang lebih baik dari celupan Allah?"
(Al-Baqarah: 138).

 

Barzakh, Januari 1996 

 
 
Kembali ke
Karya Tulis Pak Muh