Bismillahirrahmanirrahim

MENGGAPAI MARTABAT
KHOLILULLAH

Oleh: Muhammad Zuhri

Ceramah ini disampaikan dalam acara STUDI TASAWUF
yang diselenggarakan Yayasan Barzakh
di Balai Diklat Depkes Jakarta
pada tanggal 18 Maret 2001

 


Memenuhi undangan Nabi Ibrahim

Ibadah Hajji merupakan sebuah proses pengkondisian diri yang terakhir dari pengetahuan seseorang tentang Ilmu Tuhan, sebelum ia berangkat melaksanakan menejerialnya di muka bumi sebagai insan globalis yang otentik.

Milyaran rupiah dianggarkan setiap tahunnya untuk mengirimkan para peserta Pendadaran Illahi di Baitul Haram. Disana mereka dihadapkan pada kenyataan Khalqullah yang varian dalam ras, etnis dan beragam dalam sifat, karakter, kultur, tradisi, kecondongan hati dan alamiahnya, yang tak pernah disaksikan sebelumnya. Seluruh ibadah dan pengabdiannya yang telah lalu, dari syahadat, shalat, zakat, puasa dan muammalah hingga sikap hidup mereka didalam merespon benda-benda, manusia dan peristiwa-peristiwa, baik yang telah dimiliki persepsinya maupun yang belum, akan dievaluasi dalam situasi mereka jauh dari famili, komunitas sosial dan stuktur yang melindunginya.


Pada saat itu mereka akan ditelanjangi dari segala nilai-nilai tempat mereka bersandar, dan dituntut mengungkapkan diri secara otentik di depan sekian banyak masalah yang timbul dari kerumunan manusia dan situasi alam yang berbeda.

Mereka dapat melakukan sesuatu atau tidak berbuat apa-apa buat orang lain, - itulah dirinya. Mereka boleh berprasangka baik atau buruk pada apa dan siapa saja yang tampak di mata, itulah - dirinya. Mereka bisa marah, mengumpat atau sebal menyaksikan kenyataan yang tak diinginkan atau beristghfar dan berlapang hati, itulah dirinya. Bahkan mereka dapat menatap wajah setan yang menghadang langkahnya atau bertemu dengan Tuan Rumah yang mengundangnya seraya memantapkan peran dirinya di muka bumi, - itulah dirinya. Tak seorang pun dari mereka mendapatkan perolehan yang sama dari safari suci Illahi. Mereka hanya menemukan dirinya masing-masing, baik yang telah dikenal atau yang tak dikenal, yang terlupakan atau yang mereka sendiri tak sudi mengenalnya.

Mereka semua berusaha napak tilas perjalanan Ibrahim as saat beliau dikeluarkan dari sandaran hidupnya yang rapuh dan beragam- (duniawi) kedalam sandaran yang kokoh, tunggal dan abadi. Dua situasi yang jauh berbeda yang sekaligus dihayati oleh seseorang, mendukung- terjadinya momen transendensi didalam dirinya. Tentu saja bukan untuk menjadi duplikat Ibrahim as, melainkan menemukan dirinya sendiri yang beresensi Ibrahim.

Itulah Hajji Mabrur yang hatinya lurus menghadap kepada Allah dan hasil kreatifitasnya menghadap kepada ummat manusia.


Yang Tak Punya Lawan

Ummat manusia adalah satu-satunya makhluk yang memiliki kemungkinan untuk dapat merefleksikan kehendak Tuhan didalam melaksanakan menejerial-Nya dimuka bumi.Karena mereka diberi akal yang mampu melahirkan gagasan-gagasan yang akurat untuk mengembangkan diri dan lingkungannya, sekaligus menyelamatkannya dari kehancuran.

Pada hakekatnya apa yang disebut 'gagasan' adalah hasil hubungan dialogis antara akal manusia dengan kehendak Illahi lewat membaca situasi dan peristiwa-peristiwa yang berlangsung didalam proses penghayatan. Tetapi gagasan barulah merupakan seekor kijang atau burung cendrawasih yang lewat didepan mata seseorang yang sedang mengarungi hutan belantara. Ia belum merupakan wujud nyata, sehingga tidak mungkin dapat dijual kepada pihak lain, sebelum seseorang berhasil menangkap dan menguasainya.

Wilayah gagasan adalah kemungkinan-kemungkinan (al-imkan) yang masih berada ditangan Tuhan. Meskipun demikian ia merupakan satu-satunya semesta manusia, kearah mana mereka bergerak mencari terobosan sejarah.


Sebelum manusia menemukan dirinya sebagai makhluk sejarah yang berjalan lurus menembus kemungkinan-kemungkinan, mereka tergolong makhluk kosmis yang beredar dalam pengulangan pengulangan yang tak terhindarkan, antara diam dan bergerak, tidur dan jaga, pergi dan pulang, tumbuh dan berkembang biak, hidup dan mati dan sebagainya. Ibadah hajji merupakan sintesis antara wujud manusia sebagai makhluk sejarah dan wujud manusia sebagai makhluk kosmis, yang melahirkan wujud dirinya yang baru sebagai Insan Tauhid, Insan Abror atau Insan Kamil yang tidak memiliki lawan lagi.


Yang Keras dan Yang Lembut

Didalam bersejarah ummat manusia berjuang menembus kemungkinan-kemungkinan yang diduga dapat menyampaikannya- pada situasi bebas dan abadi. Namun tidak demikian kenyatannya.Kemungkinan-kemungkinan yang diambilnya tidak selalu menyampaikan mereka kepada yang diharapkan, bahkan sering- sebaliknya. Hal itu disebabkan kemungkinan yang diungkapkanya belumlah merupakan kemungkinan yang terbaik buat dirinya.

Menempuh kemungkinan yang terbaik adalah melaksanakan Amer Allah, yang dijamin oleh Hukum Kodrat akan kepastian dan effektifitasnya. Oleh karena beresiko tinggi, maka hanya orang-orang yang berjiwa besar yang berani dan mampu mengaktualisasikannya.

Kebesaran jiwa seseorang tidak dapat diukur dengan kekuatan fisik dan intelegensinya, melainkan dengan tanggungjawabnya terhadap nasib ummat. Dan kebesaran tanggungjawabnya terhadap ummat tergantung kepada rasa cintanya terhadap sesama. Sedang rasa cintanya terhadap sesama tidak mungkin bisa tumbuh tanpa adanya citra keTuhanan didalam diri. Hal itulah yang membuat Nabi Ibrahim siap mengorbankan segala-segalanya, sejak dari milik hingga seutuh waktu hidupnya demi keselamatan ummat manusia dari kiblat hidup yang nyasar.

Beliau memiliki sifat kebapakan yang keras, sehingga berani menentang kekuatan Namrud yang perkasa (Bintang; Masa-Silam; Persepsi ), membuang istrinya Hajar beserta bayinya ke padang pasir Arab (Bulan; Masa-Kini; Kebutuhan) dan membantai anak kesayangannya Ismail (Matahari; Masa-Depan; Harapan) untuk mendapatkan Allah sebagai Sahabat (Kholilullah). Tetapi beliau juga memiliki sifat keibuan yang lembut, sehingga beliau berani mengatakan didepan Allah: "Siapa mengikutiku, sesungguhnya ia termasuk dalam golonganku. Dan siapa mendurhakaiku sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(Q.S Ibrahim 36)

Semua itu membuktikan bahwa TAUHID bagi Ibrahim as tidak sekedar gagasan yang hendak diideologisasikan, melainkan benar-benar eksistensi diri beliau yang otentik (Q.S An Nahl 120)

Pati, 10 Dzulhijjah 1421H

  Berhala Masa Silam Berhala Masa Kini Berhala Masa Depan
Simbol Bintang Bulan (Purnama) Matahari
Subyektifikasi Ideologi Namrud Siti Hajar Ismail
Wujud Normatif Persepsi Kebutuhan Harapan
Wujud Faktual Yang bersifat Lingkungan: Dinasti, nasab, ras & etnis, sekte/mazhab, dan golongan/komunal

Yang bersifat Personal (telah tiada): Orang-orang suci, pahlawan, dan pembesar
Harta, tahta,wanita,nilai-nilai, prestasi,dan semua bentuk kultusindividu Semua ide selain mencapai Ridho Allah, misalnya: Materialisme, Sekularisme, dan Hedonisme

 


Kembali ke
Karya Tulis Pak Muh